Masjid Jabal Nur

Masjid Jabal Nur atau memiliki nama lengkap masjid Masjid Jabal Nur Hidayatullah ini berada di dusun puncak, desa argosari, kec. senduro, kab lumajang, Jawa Timur. Untuk setiap masjid di Indonesia ataupun dunia tentu ada yang memakai kubah serta ada yang tidak, bentuknya pun juga beragam. Dengan adanya kubah pada masjid tentu peran pembuat kubah masjid juga diperlukan.

Berdirinya Masjid Jabal Nur

Apabila kita melihat gambar dari masjid ini pastinya akan menganggap bahwa bangunan ini tidak ada spesialnya dan ukuran dari masjid ini juga tidak terlalu besar. Namun dibalik berdirinya masjid ini sangat istimewa. Masjid Jabal Nur ini adalah masjid tertinggi di Pulau Jawa yakni kira kira 2000 meter DPL. Wajar saja masjid ini adalah masjid tertinggi di Pulau Jawa karena ada di puncak bukit.Untuk Masjid Jabal Nur ini dapat berdiri sampai sekarang butuh yang namanya perjuangan, karena seorang penyebar agama islam berusaha sangat keras selama beberapa puluh tahun untuk mengislamkan warga suku Tengger.

Untuk akses jalan ke masjid ini pun juga lumayan usaha yang keras karena jalannya juga belum memadai di tambah lagi posisi kanan kiri jalannya ada beberapa jurang. Selama 20 tahunan seorang da’i yang bernama Ustadz Ali Farqu Thoha berusaha untuk membantu mengislamkan warga tengger. Dulunya agama yang dipeluk warga  tengger yakni agama islam selanjutnya sejak para pendakwah agama islam pergi dan membuat agama islam di sana memudar dan bahkan juga mati. Kemudian setelah puluhan tahun tersebut agama islam diterima dan tinggal beberpa kepala keluarga yang masih memeluk agama hindu. Metode yang digunakan dalam penyebarab agama islam cukup mudah yakni dengan mengucap salam kepada warga yang sedang bertemu, dan lama kelamaan mereka menerimanya dan mulai bertanya tentang islam.

Perjuangan dari  Ustadz Ali Farqu Thoha ini didampingi dengan beberapa hambatan bahkan juga terjadi aksi teror yang dilakukan oleh orang pihak yang tak suka dengan beliau. Dan pada akhirnya agama islam diterima, semakin lama banyak warga yang memeluk agama islam dan kebutuhan untuk tempat beribadah dibutuhkan  dan para warga membangun sebuah musholla sederhana untuk melakukan sholat yang berukuran kira 5 kali 5 meter, serta dindingnya terbuat dari papan. Dan untuk atapnya hanya menggunakan karung saja.

Dan pada akhirnya pada tahun 2009 pemerintah lumajang melakukan pembangunan masjid, namun dengan rencana ini terjadi kontroversi dari warga yang memeluk agama hindu yang juga ingin membangun pura, dan pada akhirnya tokoh hindu membangun gapura dan digeser 500 meter dengan metode model tukar lahan. Selanjutnya pembangunan masjid ini dimulai pada 10 januari 2009 dan selesai 18 juli 2010 dengan biaya yang berasal dari berbagai sumber seperti lembaga swadaya masyarakat, bantuan individu serta bantuan lainnya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *